Menunda atau Tidak Mau Punya Anak (?)

Sejak awal menikah kami (terutama aku) sering sekali ditanya tentang anak, apalagi sekarang setelah lebih dari tiga tahun menikah semakin sering pula kami ditanya kapan mau punya anak, kapan aku hamil, kok kamu tidak hamil juga sih, mandul ya, sengaja tidak mau hamil kah, dsb. Diawal pernikahan dulu aku dan suami memang mempunyai keinginan untuk punya anak, kami juga sudah berusaha supaya dikaruniai seorang anak oleh Tuhan, kami sampai memeriksakan diri ke rumah sakit dan setelah dicek semuanya baik-baik saja. Aku juga sempat menjalani terapi dan minum obat untuk membantuku supaya cepat hamil tapi sampai saat ini aku belum kunjung hamil. Setelah dipikir-pikir lagi mungkin alasan aku belum juga hamil adalah karena aku belum benar-benar siap untuk memiliki anak. Tuhan yang baik memberikan kami waktu untuk berpikir masak-masak sebelum kami memutuskan untuk berusaha lebih jauh untuk memiliki anak.

Semakin ke sini aku semakin tidak yakin untuk memiliki anak, aku merasa aku tidak mau dan tidak siap untuk terikat dengan seorang anak untuk seumur hidupku. Kami sudah memiliki seekor anjing yang manis, Mahal dan bagiku itu sudah cukup. Toh kami bertiga bahagia dan baik-baik saja. Kami tidak merasa ada yang kurang karena kami belum atau tidak memiliki anak sampai saat ini. Puji Tuhan, suamiku selalu mendukung apapun yang terbaik untukku, untuk kami. Bagi kami anak bukanlah sesuatu yang harus dimiliki dalam sebuah pernikahan dan kami tidak membutuhkan seorang anak untuk menguatkan ikatan pernikahan kami.

Aku dan suamiku suka jalan-jalan dan liburan. Sebelum pandemi kami bisa liburan ke luar Belanda 3-4 kali dalam setahun. Kalau kami punya anak kami tidak akan bisa liburan sesering itu apalagi kalau anak kami di usia wajib sekolah yang mana kami harus menunggu sekolah libur untuk bisa pergi liburan bersama anak. Ongkos untuk liburan di masa libur sekolah sangatlah mahal. Harga tiket pesawat, hotel, dll bisa naik dua-tiga kali lipat dari harga normal. Liburan di dalam negeri saja kalau begitu, kan di Belanda banyak tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ya betul di sini juga banyak tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi tapi bagiku dan suami liburan itu harus keluar dari Belanda, minimal ke negara tetangga sebelah lah kayak Jerman atau Belgia. Kalau cuma di sekitaran Belanda saja itu namanya sekedar jalan-jalan bukan liburan dan tidak terasa sebagai liburan.

Belum lagi biaya lain-lain seperti biaya kinderopvang/penitipan anak yang harus dikeluarkan setiap bulan jika kedua orangtuanya bekerja dan tidak bisa menjaga anak di rumah. Aku pernah iseng menghitung biaya kinderopvang untuk tiga hari per minggu atau 12 hari per bulan yang jumlahnya sangatlah besar. Bukannya kami tidak mampu untuk membayar kinderopvang jika kami memiliki anak tapi kami berpikir uang dengan jumlah yang besar tersebut lebih baik digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat bagi kami. Bisa juga aku berhenti bekerja dan kembali menjadi ibu rumah tangga sampai anak kami berusia empat tahun kemudian aku bisa mencari pekerjaan lagi, sayangnya aku tidak mau berkorban untuk berhenti bekerja demi anak. Membayar oppas/aupair/babysitter yang datang ke rumah untuk mengasuh anak mugkin akan lebih murah tapi aku dan suami tidak suka jika ada orang asing yang berlama-lama di rumah kami tanpa si empunya rumah apalagi kalau harus tinggal bersama kami. Untuk anjingku saja aku lebih memilih untuk membayar lebih mahal supaya kami bisa membawanya ke hondenopvang jika kami berdua harus bekerja dan/atau tidak ada di rumah seharian dibandingkan dengan membayar sedikit lebih murah untuk uitlaten service dan mempercayakan kunci rumah kami ke orang lain. Kami juga tidak memiliki keluarga atau teman yang rumahnya dekat dengan kami yang bisa kami mintai tolong untuk menjaga anak kami sewaktu-waktu saat dibutuhkan.

Hal lain yang kadang terlintas dalam pikiranku adalah aku takut kalau kami memiliki anak yang memiliki masalah kesehatan fisik dan/atau psikis yang menyebabkan anak kami membutuhkan bantuan orang lain seumur hidupnya dan tidak bisa menjadi seorang yang mandiri. Aku takut merasa bersalah dan terbebani seumur hidupku. Atau kalau anak kami ternyata alergi terhadap anjing, mana bisa aku memilih salah satu antara anak atau Mahal, aku dan suami berkomitmen untuk merawat Mahal sampai akhir hayatnya atau akhir hayat kami.

Tapi apakah kami (terutama aku) akan berubah pikiran dan mau memiliki anak dimasa yang akan datang? Maybe, who knows but for now, a child is not an option for us. We have a dog and for me my dog is my child. I don’t care if you say I can’t compare a child with a dog. Well, I can and I do compare them, darling. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *